Dipercaya untuk mempersiapkan beroperasinya Asri Medical Center milik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta hanya dalam waktu 2 bulan bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Dari sisi penggunaan software medical record, AMC belum memiliki standard baku operasional yang siap untuk dikembangkan dalam software. Layaknya rumah sakit yang baru berdiri, belum memiliki pengalaman dan kebutuhan yang tergambar jelas bentuk pelayanannya. Beberapa yang bisa kami catat garis besarnya adalah implementasi Rekam Kesehatan Elektronik secara total yang meliputi:
- Appointment
- ePrescribing
- Billing System dan
- Electronic Medical Record
Namun ke-empat requirement tersebut sama sekali belum terdefinisi secara jelas dan terukur. Sebuah pilihan sulit sehingga mau tidak mau kami harus terlibat dalam penyusunan kebijakan. Pilihan ini memiliki 2 makna, disatu sisi kami bisa mengarahkan untuk membuat standard disisi lain kami adalah developer yang dituntut memenuhi kebutuhan itu. Analisis pertama yang memungkinkan adalah menentukan software yang dipakai sehingga bisa mengarahkan kepada ketersediaan fungsi aplikasi didalamnya yang sesuai dengan kebutuhan AMC. Jika dilihat dari model bisnisnya, AMC bukanlah rumah sakit karena didalamnya tidak mengelola rawat inap (inpatient) tetapi lebih mirip pusat layanan spesialistik atau rawat jalan (outpatient).
Bersama tim PMPK, kami merancang schedule proyek dengan berbagai pertimbangan dan berbagai kemungkinan kegagalan. Susunan jadwal tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
Tahap I : Analisis Masalah
Tahap II : Pengumpulan data Kebutuhan
Tahap III : Analisis software OpenSource
Tahap IV : Desain Core System
Tahap V : Developing
Tahap VI : Implementasi dan pelatihan
Tahap VII : Analisis masalah tahap II
Tahap VIII : Desain prototipe
Tahap IX : Update software
Tahap X : Implementasi
Tahap XI : Pelatihan
Tahap XII : Pendampingan
Pada tahap analisis masalah, kami dapat menemukan adanya kekuatan penting implementasi oemr yakni perawat dan dokter memiliki kemauan tinggi untuk menggunakan aplikasi. Masalah yang timbul justru pada sistem akuntansi dan keuangan yang belum terstandarsisasi. Padahal inti dari billing system ada pada sistem akuntansinya.
Tantangan itulah yang ternyata mampu diakomodasi oleh oemr dengan fasilitas settingan layanan dan tarif yang sangat dinamis meskipun defaultnya tidak menggunakan prinsip Casemix. Penerbitan Invoice dan Receipt tidaklah sulit disesuaikan dengan kebutuhan, hanya disini kami kesulitan menambahkan tabel nomor kuitansi pada database karena relasinya sangat njelimet dan berhubungan dengan tabel2 lain yang cukup banyak.
Dari sisi EMR / clinical documentation nya, OEMR ternyata bisa dimodifikasi sesuai dengan format lembar pemeriksaan dokter AMC yang sangat sederhana. Kodifikasi penyakit sudah include dengan ICD-10 dan kodifikasi prosedur tindakan juga sudah inclute ICD-9CM.
Beberapa kelemahan OEMR adalah desainnya yang kurang menarik dan artistik, laporan2 keuangan tidak lazim u/ Indonesia, istilah-istilah tabel dalam database juga kurang lazim. Hanya itu saja, tapi kelemahan itu hanya masalah waktu saja.
Demikian sedikit share pengalaman kami, dan alhamdulillah sampai sekarang belum ada masalah yang berarti dalam implementasinya. AMC sangat mengapresiasi hal ini karena harganya tidak mencapai ratusan juta rupiah tapi kualitasnya hampir sama dengan software yang ratusan juta rupiah.
Jadi siapa mau coba?
Mas Syaiful Fatah, salam kenal…
Saya baru saja download openEMR, kayaknya oke juga…
Kira-kira ada ga ya tutorial openEMR baik untuk user atau developer, karena di websitenya kelihatan link user manualnya error. Tks ya….
terima kasih blogbeken, salam kenal juga..
Memang openEMR ini dari segi struktur data adalah yang paling mudah dan komplit untuk klinik sederhana bahkan rumah sakit tipe D tanpa fungsi akuntansi yang rumit. Versi terbaru yang direlease adalah versi 3.2 dimana versi inilah yang kami kembangkan di AMC UMY. Jika gak sabar sedikit versi 4.0 akan segera di release besok bulan Juli-agustus 2010, namun dalam forum diskusi developer belum memberikan clue apa saja fitur tambahannya.
Untuk tutorialnya saya kira link nya masih sehat koq, 1 minggu yll saya masih bisa download. coba saja di link bawah ini
http://www.openmedsoftware.org/wiki/Main_Page#User_Manuals
kemudian anda cari apa yang ingin diketahui.
Jika masih belum jelas silahkan kirimkan email atau lewat forum ini juga boleh.
Thanks dah mampir blog saya.
manstab cak. keren dah implementasinya
weh.. mas Mandra rek..! kok iso nemu blog ku? ya wis suwun mampire. biar kecil tapi berhasil. kuwi sing biyen arep tak jaluki tulung golekke programmer, akhire nemu penggantine. sori biyen ngrepoti.
openemr memang keren, tapi yang sangat menggangu menurut saya, menu searchnya, kok pake nama belakang. sedangkan kalo indonesia kan biasanya pake nama depan. Gimana caranya mensiasatinya. Thanks
[...] Berbagi Pengalaman Implementasi OpenEMR di Asri Medical Center UMY February 20105 comments and 1 Like on WordPress.com, 5 [...]
apa kabar mas fatah. aku sudah coba openeme..waduhh. berat
Salam,
Mas, saya coba pakai oemr juga, tapi kok masih icd-9 ya? cara setting biar pakai icd-10 gmn?
Matur nuwun
Wassalaam
Benar mas Hari, jadi memang ada 2 yang akan kita temukan disana. ICD 9 yang di OpenEMR itu ICD-9CM untuk kode tindakan (procedure) sedangkan ICD-10 adalah kode diagnosis. jadi setiap satu record pasien kita bisa definisikan ICD-9CM dan ICD-10 nya.
Demikian, selamat melanjutkan oprek2nya…
koq lama ea mas broo waktu aq maw install ni progam
@mas asep: maksudnya lama proses installnya atau penyesuaiannya?
coba data base versi 4 , sudah ku transalate indonesia ini link
http://www.indowebster.com/download/files/openemr_db_sql