Cisco WebEx for Education, solusi telekonferensi dalam pendidikan

27 03 2011

Setelah sekian kali mencoba versi trialnya, akhirnya berhasil memiliki account di WebEx dengan paket Meeting Center. Penasaran dengan kemampuan versi aslinya, ternyata memang WebEx bisa diandalkan untuk mengingkatkan performa dosen dalam memberikan kuliah, paling tidak semua proses saat kuliah bisa direkam dengan baik. Rasanya tidak terlalu merepotkan dibanding instalasi OpenMeeting dan atau Elastix untuk komunikasi dua arah khususnya berbasis audio-video. Justru kerepotan saat awal berlangganan karena nama Indonesia tidak terdapat dalam list negara-negara pembeli webex, tetapi dengan bantuan pak Candra akhirnya dapat respon dari Mr. Richard Shen (sales untuk teritori asia). Terima kasih juga bu anggraini mau ditelpon malam-malam dan menghubungkan dengan pak candra.





2010 in review

2 01 2011

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 3,700 times in 2010. That’s about 9 full 747s.

In 2010, there were 4 new posts, growing the total archive of this blog to 16 posts. There were 3 pictures uploaded, taking up a total of 53kb.

The busiest day of the year was January 20th with 41 views. The most popular post that day was Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, Strategi Adopsi Teknologi dan Permasalahannya.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, google.co.id, search.conduit.com, mail.yahoo.com, and plurk.com.

Some visitors came searching, mostly for sistem informasi manajemen rumah sakit, sia pbl fk umy, teknologi kedokteran, sia pbl, and sim rs.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, Strategi Adopsi Teknologi dan Permasalahannya February 2009
6 comments

2

Sistem Informasi Akademik Problem Based Learning (SIA PBL) Di Fakultas Kedokteran UMY (Bagian 1) November 2009
2 comments

3

Pentingnya Penguasaan Teknologi Kedokteran di Rumah Sakit February 2010
2 comments

4

Berbagi Pengalaman Implementasi OpenEMR di Asri Medical Center UMY February 2010
5 comments and 1 Like on WordPress.com,

5

Tentang saya May 2008
14 comments





Cloud Computing dalam medis, mungkinkah ?

13 12 2010
cloudcomputing syaiful fatah

Cloud Computing

Ada sebuah tren menarik akhir-akhir ini dimana sebuah perusahaan software terbesar di dunia mulai menciptakan aplikasi gratis berbasis anggota. Aplikasi tersebut ternyata tidak dijual dalam bentuk CD package  layaknya MS Office, MS Windows, RedHat, SuSE dan berbagai aplikasi pengolah data lainnya seperti Macromedia Dreamweaver, Photoshop maupun Coreldraw. Tetapi aplikasi tersebut dapat digunakan oleh anggota tanpa menginstallnya di PC desktop masing-masing. Nah bagaimana bisa ?

Ya, itulah yang dinamakan cloud computing. Secara harfiah cloud = awan, computing = penghitungan tapi bukan berarti penghitungan awan. Cloud computing merupakan generasi baru software development dimana aplikasi tertanam di sebuah server dengan sistem operasi tertentu yang memungkinkan user anggota dapat menggunakan software melaui sambungan internet (identik dengan awan/cloud). Lihat saja 2 tahun lalu Google mempelopori dengan docs.google.com dimana kita bisa mengelola file Excel, Word, Drawing dan Powerpoint secara langsung dan menyimpannya dalam server google. Kita bahkan dapat mengolah file dari direktori PC desktop menggunakan GoogleDocument itu. Hebatnya kita hanya membutuhkan koneksi internet dan sebuah browser yang support API yang gratis pula. Kita tidak perlu Read the rest of this entry »





Rumah Sakit Pemerintah Perlu Memiliki Blueprint Teknologi Informasi

13 06 2010

Beberapa hari yang lalu diundang untuk melihat dan memberi masukan tentang pemanfaatan teknologi informasi di salah satu RS tipe C milik pemerintah kabupaten di Jawa Barat. Dan seperti biasa saya terlebih dahulu merasakan bagaimana pelayanan yang diberikan, tentunya saya lebih perhatikan pada pemakaian perangkat teknologi informasinya.

Sebuah awal yang tidak terlalu menggembirakan.. setelah setengah jam berkeliling mencari tempat pendaftaran pasien, …tidak ada petunjuk, akhirnya ketemu juga, tapi.. ”wah.. sudah tutup pak, coba saja tanya langsung ke perawat poli, mungkin masih mau menerima” kata salah satu petugas pendaftaran, kira2 45 tahunan usianya, padahal masih jam 9.50 (hari Jum’at). Begitu menuju poli jawaban perawat ragu-ragu dan akhirnya ditanya keluhannya apa (saya masih berdiri) dan diberi surat rujukan untuk ke instalasi radiologi lalu kembali lagi. Bergegas menuju ruang radiologi karena takut dokternya sudah pulang. Di instalasi radiologi cukup simpel karena tidak terlalu antri dan dokter Sp.Rad. nya masih ada. Setelah hasil saya dapat berbegas saya menuju poli penyakit dalam (karena saya mengeluh batuk-batuk lama) dan kaget karena dokter sudah pulang dan perawat yang tadi memberikan rujukan sudah berkemas mau pulang (jam menunjukkan 10.30 WIB). ”Wah dokter sudah pulang pak, bapak bisa ke prakteknya saja biasanya jam 11 sudah buka praktek, nanti hasil foto thoraksnya dibawa saja”, saut perawat yang memberikan rujukan foto toraks PA tadi. Satu-satunya komputer yang saya lihat adalah komputer dokter radiologi yang digunakan untuk mengetikkan hasil pembacaan menggunakan template yang sudah ada.

Dari hasil observasi singkat tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa tidak adanya teknologi informasi dapat menghambat proses administrasi dan beresiko menurunnya kepuasan pasien. Tidak dicatatnya semua pasien dalam rekam medik adalah salah satu pelanggaran atas undang-undang praktek kedokteran. Pembayaran yang dilakukan multipoint tanpa adanya sistem informasi beresiko kebocoran anggaran dan praktek ”pungli”. Hal terpenting yang masih tampak adalah kedisiplinan staff medis/paramedis dalam menjalankan standar prosedur operasional masih rendah, terlihat dari ketidaktegasan petugas pendaftaran maupun perawat di poli. Pembuatan surat rujukan radiologi oleh perawat bukanlah kompetensinya, ini adalah sebuah pelanggaran, yang jika tidak terkendali dapat beresiko terhadap kesalahan keputusan klinis. Akhirnya pasien pula yang dirugikan.

Oleh karena itu instansi pelayanan kesehatan apalagi milik pemerintah praktis sangat memerlukan perangkat teknologi informasi yang komprehensif. Perencanaannya pun hendaknya tidak tergesa-gesa dengan tetap mengupayakan proses yang realistis tetapi efisien. Dalam hal perencanaan semestinya dilakukan oleh ahli yang kompeten dan berpengalaman di bidang hospital information system. Perencanaan sistem informasi mestinya bisa mencakup persoalan RS secara holistik dan komprehensif tidak hanya sekedar pemakaian aplikasi billing system dan medical record saja. Akan tetapi perlu dibuat blueprint atau cetak biru sistem informasi.

Secara umum langkah-langkah tersebut dapat ditempuh dengan
1.    Survey
2.    Mapping
3.    Validasi
4.    Rekomendasi, dan
5.    Dokumentasi

Hasil blueprint juga harus mampu menjawab tantangan hingga 10 – 15 tahun mendatang. Hal ini didasarkan pada proses regenerasi dan alih teknologi yang semakin cepat serta sangat dinamisnya kehidupan dan tatanan sosial masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat semakin tinggi pula tingkat pelayanan kesehatan yang harus diberikan.

Blueprint arsitektur teknologi informasi dapat terdiri dari :
1.    Arahan strategis
2.    Arsitektur aplikasi

  • Peta aplikasi
  • Persyaratan software aplikasi
  • Pemodelan software aplikasi

3.    Arsitektur infrastruktur & teknologi

Selain itu harus pula disusun blueprint tata kelola teknologi informasi sebagai bagian dari jaminan kualitas dan keberlangsungan implementasi dimasa akan datang. Diantaranya :
1.    Pengelolaan information technology leadership
2.    Struktur organisasi teknologi
3.    Pola pengambilan keputusan (decision making)
4.    Program tata kelola teknologi informasi

Dan yang terakhir adalah Rekomendasi dan Roadmap dengan dilakukan gap analysis terlebih dahulu untuk dapat melihat peta aplikasi antara sebelum dan asumsi/ilustrasi sesudah diterapkannya sistem informasi tersebut.





Berbagi Pengalaman Implementasi OpenEMR di Asri Medical Center UMY

21 02 2010

Dipercaya untuk mempersiapkan beroperasinya Asri Medical Center milik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta hanya dalam waktu 2 bulan bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Dari sisi penggunaan software medical record, AMC belum memiliki standard baku operasional yang siap untuk dikembangkan dalam software. Layaknya rumah sakit yang baru berdiri, belum memiliki pengalaman dan kebutuhan yang tergambar jelas bentuk pelayanannya. Beberapa yang bisa kami catat garis besarnya adalah implementasi Rekam Kesehatan Elektronik secara total yang meliputi:

  • Appointment
  • ePrescribing
  • Billing System dan
  • Electronic Medical Record

Namun ke-empat requirement tersebut sama sekali belum terdefinisi secara jelas dan terukur. Sebuah pilihan sulit sehingga mau tidak mau kami harus terlibat dalam penyusunan kebijakan. Pilihan ini memiliki 2 makna, disatu sisi kami bisa mengarahkan untuk membuat standard disisi lain kami adalah developer yang dituntut memenuhi kebutuhan itu. Analisis pertama yang memungkinkan adalah menentukan software yang dipakai sehingga bisa mengarahkan kepada ketersediaan fungsi aplikasi didalamnya yang sesuai dengan kebutuhan AMC. Jika dilihat dari model bisnisnya, AMC bukanlah rumah sakit karena didalamnya tidak mengelola rawat inap (inpatient) tetapi lebih mirip pusat layanan spesialistik atau rawat jalan (outpatient).

Bersama tim PMPK, kami merancang schedule proyek dengan berbagai pertimbangan dan berbagai kemungkinan kegagalan. Susunan jadwal tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Tahap     I     : Analisis Masalah
Tahap     II    : Pengumpulan data Kebutuhan
Tahap III    : Analisis software OpenSource
Tahap IV    : Desain Core System
Tahap V    : Developing
Tahap VI    : Implementasi dan pelatihan
Tahap VII    : Analisis masalah tahap II
Tahap VIII    : Desain prototipe
Tahap IX    : Update software
Tahap X    : Implementasi
Tahap XI    : Pelatihan
Tahap XII    : Pendampingan

Pada tahap analisis masalah, kami dapat menemukan adanya kekuatan penting implementasi oemr yakni perawat dan dokter memiliki kemauan tinggi untuk  menggunakan aplikasi. Masalah yang timbul justru pada sistem akuntansi dan keuangan yang belum terstandarsisasi. Padahal inti dari billing system ada pada sistem akuntansinya.

Tantangan itulah yang ternyata mampu diakomodasi oleh oemr dengan fasilitas settingan layanan dan tarif yang sangat dinamis meskipun defaultnya tidak menggunakan prinsip Casemix. Penerbitan Invoice dan Receipt tidaklah sulit disesuaikan dengan kebutuhan, hanya disini kami kesulitan menambahkan tabel nomor kuitansi pada database karena relasinya sangat njelimet  dan berhubungan dengan tabel2 lain yang cukup banyak.

Dari sisi EMR / clinical documentation nya, OEMR ternyata bisa dimodifikasi sesuai dengan format lembar pemeriksaan dokter AMC yang sangat sederhana. Kodifikasi penyakit sudah include dengan ICD-10 dan kodifikasi prosedur tindakan juga sudah inclute ICD-9CM.

Beberapa kelemahan OEMR adalah desainnya yang kurang menarik dan artistik, laporan2 keuangan tidak lazim u/ Indonesia, istilah-istilah tabel dalam database juga kurang lazim. Hanya itu saja, tapi kelemahan itu hanya masalah waktu saja.

Demikian sedikit share pengalaman kami, dan alhamdulillah sampai sekarang belum ada masalah yang berarti dalam implementasinya. AMC sangat mengapresiasi hal ini karena harganya tidak mencapai ratusan juta rupiah tapi kualitasnya hampir sama dengan software yang ratusan juta rupiah.

Jadi siapa mau coba?





Pentingnya Penguasaan Teknologi Kedokteran di Rumah Sakit

14 02 2010

Kalau melihat perkembangan teknologi kedokteran dan kebijakan untuk rumah sakit tak ada habisnya mulai dari program INA-DRG, Case Mix, Sistem Informasi Manajemen RS, hingga medical imaging dan medical engineering. Ujung-ujungnya adalah pada patient care dan patient safety. Rumah sakit tidak cukup alasan untuk mengesampingkan 2 unsur tersebut oleh karena usaha dibidang ini bak dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Satu sisi adalah sebagai organisasi sosial dan satu sisi adalah institusi bisnis. Namun belakangan pergeseran fungsi ini lebih banyak kekanan daripada ke kiri. Ini artinya fungsi sosial RS sudah mulai bergeser menjadi yang kurang dominan.

Salah satu hal yang menyebabkan pergeseran ini salah satunya adalah kemampuan teknologi dan resources SDM RS yang cenderung tidak berimbang. Di satu sisi teknologi informasi komputer berkembang cepat tapi disisi lain kemampuan SDM bergerak pasif bahkan cenderung stagnan. Hal ini menyebabkan berbagai peralatan IT dan teknologi kedokteran tidak mencapai kapasitas maksimal padahal alat-alat kedokteran hampir bisa ditebak ”pasti” mahal. Padahal peralatan2 tersebut diperoleh dengan cara hutang atau sewa dari perusahaan supplier. Kesalahan prosedur penggunaan dan perawatan alat maupun teknologi menyebabkan tergangunya utilitas yang berakibat mengganggu pendapatan RS. Di samping itu biaya perawatan alat yang mahal merupakan beban tersendiri karena alat tersebut tidak memiliki spare part di Indonesia.

Beban tersebut saat ini dijadikan alasan mengapa akses layanan teknologi di RS mahal. Untuk menutupi biaya operasional tersebut tidak jarang pihak menajemen RS membebankannya kepada pasien secara tidak obyektif. Hitung-hitungan tersebut buntutnya akan menaikkan biaya pelayanan yang sangat mahal.

Salah satu solusinya adalah penguasaan teknologi kedokteran. Pemakaian produk-produk bangsa perlu ditingkatkan lebih banyak lagi. USG produk lokal, EKG, Nebulizer, kursi roda, Bed ICU, Stetoskop hingga alat bedah minor kini sudah banyak diproduksi oleh bangsa Indonesia. Mengenai kualitas sebagian memang masih belum bisa menyamai produk luar negeri tetapi sebagian sudah sama berkualitasnya bahkan lebih baik. Semakin banyak produk dalam negeri dipakai, logikanya akan semakin baik pula kualitasnya karena akan semakin banyak ditemukan kelemahannya sehingga dituntut untuk selalu memperbaikinya.

Penelitian2 dibidang rekayasa biomedika ini sudah banyak dilakukan oleh para peneliti kita, bahkan sudah ada sekolahnya. Kalau di UGM dulu ada DIII Elektromedik, sekarang sudah berkembang dengan adanya S2 Teknik Biomedika yaitu di ITB, UI, UGM dan ITS.

Kapan bangsa Indonesia bisa bangkit dibidang ini ?

Pentingnya Penguasaan Teknologi Kedokteran di Rumah Sakit

Kalau melihat perkembangan teknologi kedokteran dan kebijakan untuk rumah sakit tak ada habisnya mulai dari program INA-DRG, Case Mix, Sistem Informasi Manajemen RS, hingga medical imaging dan medical engineering. Ujung-ujungnya adalah pada patient care dan patient safety. Rumah sakit tidak cukup alasan untuk mengesampingkan 2 unsur tersebut oleh karena usaha dibidang ini bak dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Satu sisi adalah sebagai organisasi sosial dan satu sisi adalah institusi bisnis. Namun belakangan pergeseran fungsi ini lebih banyak kekanan daripada ke kiri. Ini artinya fungsi sosial RS sudah mulai bergeser menjadi yang kurang dominan.

Salah satu hal yang menyebabkan pergeseran ini salah satunya adalah kemampuan teknologi dan resources SDM RS yang cenderung tidak berimbang. Di satu sisi teknologi informasi komputer berkembang cepat tapi disisi lain kemampuan SDM bergerak pasif bahkan cenderung stagnan. Hal ini menyebabkan berbagai peralatan IT dan teknologi kedokteran tidak mencapai kapasitas maksimal padahal alat-alat kedokteran hampir bisa ditebak ”pasti” mahal. Padahal peralatan2 tersebut diperoleh dengan cara hutang atau sewa dari perusahaan supplier. Kesalahan prosedur penggunaan dan perawatan alat maupun teknologi menyebabkan tergangunya utilitas yang berakibat mengganggu pendapatan RS. Di samping itu biaya perawatan alat yang mahal merupakan beban tersendiri karena alat tersebut tidak memiliki spare part di Indonesia.

Beban tersebut saat ini dijadikan alasan mengapa akses layanan teknologi di RS mahal. Untuk menutupi biaya operasional tersebut tidak jarang pihak menajemen RS membebankannya kepada pasien secara tidak obyektif. Hitung-hitungan tersebut buntutnya akan menaikkan biaya pelayanan yang sangat mahal.

Salah satu solusinya adalah penguasaan teknologi kedokteran. Pemakaian produk-produk bangsa perlu ditingkatkan lebih banyak lagi. USG produk lokal, EKG, Nebulizer, kursi roda, Bed ICU, Stetoskop hingga alat bedah minor kini sudah banyak diproduksi oleh bangsa Indonesia. Mengenai kualitas sebagian memang masih belum bisa menyamai produk luar negeri tetapi sebagian sudah sama berkualitasnya bahkan lebih baik. Semakin banyak produk dalam negeri dipakai, logikanya akan semakin baik pula kualitasnya karena akan semakin banyak ditemukan kelemahannya sehingga dituntut untuk selalu memperbaikinya.

Penelitian2 dibidang rekayasa biomedika ini sudah banyak dilakukan oleh para peneliti kita, bahkan sudah ada sekolahnya. Kalau di UGM dulu ada DIII Elektromedik, sekarang sudah berkembang dengan adanya S2 Teknik Biomedika yaitu di ITB, UI, UGM dan ITS.

Kapan bangsa Indonesia bisa bangkit dibidang ini ?





SIA PBL 2006 Fakultas Kedokteran (Bagian 2.a)

4 11 2009

SIA PBL 2006 TMSebelum saya lanjutkan ke fitur2 SIA PBL 2006 ™ saya ingin menyampaikan terlebih dahulu aspek teknis yang dirancang dalam system ini, semoga bermanfaat

FKUMY SIA System PBL

  1. Server-server untuk SIA PBL 2006 ditempatkan dalam DMZ. Akses kontrol ke dalam DMZ diatur oleh router dan firewall. Aturan dasar dari firewall adalah “Deny All”.  Port akses kedalam DMZ adalah port 25 (SMTP), port 80 (http) dan port 443 (https). Khusus untuk keperluan remote dekstop akan dibuka port 3363 (remote desktop).
  2. Akses ke DMZ dapat dilakukan melalui TCP/IP, baik Intranet maupun extranet. Intranet digunakan oleh administrasi internal kampus. Extranet digunakan oleh pihak ketiga yang berkepentingan untuk mengakses SIA PBL 2006, misalnya rumah sakit dan bank. Akses extranet dilakukan melalui jaringan internet.
  3. Seluruh server menggunakan sistem operasi Microsoft Windows 2003 Server.
  4. Pada database terdapat dua server yang keduanya menggunakan Microsoft SQL Server 2005.
  5. Database pertama digunakan untuk OLTP dan business logic yang melayani traksaksi SIA PBL 2006.
  6. Database kedua merupakan replikasi database pertama yang digunakan untuk Data Warehouse, OLAP, dan Reporting Service.
  7. Application server merupakan server yang beriteraksi secara langsung dengan user.
  8. Applicatoin server, selain terhubung dengan jaringan LAN, juga terhubung dengan GSM modem untuk menjalankan aplikasi SMS.

Logical Architecture

SIA PBL Logical architecture

Pembangunan SIA PBL 2006 didasarkan pada :

  1. Seluruh server menggunakan sistem operasi Microsoft Windows 2003 Server
  2. Server DBMS menggunakan Microsoft SQL Server 2005
  3. SIA PBL 2006 dibangun menenggunakan .Net Framework versi 2.0
  4. Coding SIA PBL 2006 menggunakan .Net Framework native language VB .Net atau C#

SIA PBL 2006 menggunakan model n-tier architecure. Logical architecture SIA PBL 2006 dapat dilihat pada gambar diatas.

  1. Pada presentation layer, SIA PBL 2006 dapat diakses menggunakan 3 cara, yaitu web browser, Win Application, dan SMS. Pada layer ini hanya sebagai presentation atau user interface. Walaupun menggunakan windows application, tidak ada business logic yang diletakkan pada sisi user.
    1. Web Browser : penggunaan web browser didasari pertimbangan pada komputer user. Komputer user tidak memerlukan instalasi khusus untuk mengakses SIA PBL 2006. Komputer user hanya digunakan untuk mengakses SIA PBL 2006 dan tidak mempunyai device khusus yang berhubungan dengan operasional business proses FK.
    2. Windows  application: user dapat mengakses SIA PBL 2006 menggunakan software aplikasi windows yang dibangun untuk keperluan SIA PBL 2006. Hal ini dimungkinkan untuk aplikasi-aplikasi tertentu. Pertimbangan yang harus diperhatikan untuk menggunakan windows application adalah spesifikasi PC client harus memenuhi persyaratan untuk menjalankan applikasi dengan .Net Framework versi 2.0, dan PC client terhubung dengan device khusus yang diperlukan untuk operasional business proses FK. Akses business logic SIA PBL 2006 dari windows application dilakukan dengan cara memanfaatkan web service yang dibangun pada sisi business tier. Windows application tidak dapat mengakses langsung ke database, tapi harus menggunakan protokol http.
    3. Cell Phone: akses dari cell phone dilakukan menggunakan SMS. SMS digunakan untuk melayani penyebaran informasi yang diperlukan oleh civitas academic FK (optional) melalui telpon seluler.
    4. Firewall, digunakan untuk membatasi akses ke dalam DMZ. Akses ke server SIA PBL 2006 hanya diperbolehkan menggunakan protokol http.
    5. Web server,  dingunakan sebagai interface utama pada server SIA PBL 2006 ke user. Pada web server diletakkan web application, web services, dan deployment server.
    6. Web application, digunakan untuk memberikan layanan akses SIA PBL 2006 melalui web browser. Web form untuk user interface aplikasi SIA PBL 2006 diletakkan pada bagian ini.
    7. Web service, digunakan untuk memberikan layanan akses SIA PBL 2006 melalui windows application. Semua web method untuk akses business logic SIA PBL 2006 diletakkan pada bagian ini.
    8. Deployment Click One, digunakan untuk keperluan deployment dan installasi software windows application. Instalasi software pada PC user dilalukan menggunakan teknologi Click One. Hal ini bertujuan untuk mempermudah deployment dan kontrol pada saat update software user.
    9. SMS service, digunakan untuk memberikan layanan SMS untuk akses SIA PBL 2006 melalui cell phone (optional).
    10. Busines logic. Bagian ini merupakan business layer, dimana terdapat library dari business logic untuk business proses SIA PBL 2006. Busines logic dapat ditempatkan pada dua tempat, pertama sebagai library pada application server, dan kedua pada server DBMS. Bagian ini juga merupakan interface antara  web application, web service, dan sms service, dengan DBMS.
    11. DBMS OLTP. SIA PBL 2006 menggunakan dua DBMS. DBMS pertama dingunakan untuk OLTP yang melayani seluruh transaski proses binis SIA PBL 2006. Pada bagian ini juga ditempatkan busines logic yang langsung berhubungan dengan proses database. Business logic pada bagian ini dapat berupa store procedure dan CLR (Common Language Runtime). Diutamakan busines logic ditempatkan pada bagian ini.
    12. DBMS OLAP. Bagian kedua DBMS SIA PBL 2006 digunakan sebagai OLAP. DBMS OLAP merupakan replikasi dari DBMS OLTP yang digunakan untuk keperluan datawarehouse, integrasi, analysis, dan reporting.  Selain database engine, pada bagian ini dijalankan SSAS (SQL Server 2005 Analysis Services),  SSIS (SQL Server 2005 Integration Services), dan SSRS (SQL Server 2005 Reporting Services). Akses reporting service oleh user dilakukan melalui web browser.