Smart Hospital Information System (SmartHIS)

14 02 2009

Beberapa hari ini pikiran saya disibukkan dengan software SIM RS yang paling ideal untuk RS di Indonesia. Akhirnya saya dapat memetakan requirements yang mungkin belum ada di beberapa software SIM yang beredar liar di beberapa RS di tanah air.

  1. Integrated Modul Synchronization. Interoperabilitas modul pelayanan RS satu dengan yang lain terintegrasi dengan baik sehingga memungkinkan efisiensi dan penghematan.
  2. Clinical Decision Support System. Meminimalkan kesalahan dalam pengambilan keputusan klinik oleh tenaga medis RS sehingga dapat diperoleh pengobatan yang rasional, holistic, komprehensif. Keterkaitan antara clinical pathway dengan basis pengetahuan dasar kedokteran dan terapi diharapkan mampu mengurangi resiko pengobatan yang irasional.
  3. Data Exchange Protocol. RS dalam satu jaringan (yayasan, perusahaan, organisasi) dimungkinkan dapat saling bertukar data. Adanya teknologi XML (Extensible Markup Language) saat ini bisa dioptimalkan untuk pertukaran data tersebut
  4. Electronic Prescription. Bayangkan jika sebuah resep dokter bisa discan dan dibaca oleh computer secara cepat menjadi sebuah text, kemudian text ini dapat terkirim ke instalasi farmasi dan petugas / apoteker meraciknya dengan cepat, pasien tinggal menunggu sebentar dan obat sudah tersedia. Ternyata teknologi ini sudah bisa dikembangkan di Indonesia (BPPT) dengan menggunakan OCR (Optical Character Recognition) yang mengembangkan model NN (Neural Network) untuk mengenali tulisan tangan (katakana, angka, simbol, huruf romawi, huruf Kanji dan huruf Jawa).
  5. Diagnosis Decision Support System
  6. Integrated with Voice Over IP (VoIP)
  7. Workshop Server
  8. Indonesian Diagnostic Relation Group (InaDRG)
  9. Staff Scheduling
  10. Content Based Image Retrieval (CBIR) . RS yang memiliki sarana Head CT-Scan, USG, MRI, Rontgen juga dapat dioptimalkan untuk berbagai keperluan penunjang keputusan medis maupun penelitian epidemiologi. Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam pengambilan kembali suatu image atau image retrieval.
  • context-based adalah pengambilan data dengan merujuk pada kandungan semantik berkaitan dengan image, biasanya berhubungan dengan deskripsi image misalnya keyword dari image.
  • content-based adalah pengambilan data dengan merujuk pada fitur image seperti warna, tekstur, bentuk, atau kombinasi atau yang biasa desebut dengan Content Based Image Retrieval (CBIR).

Pada perkembangannya teknik context based menjadi tidak praktis dikarenakan adanya ukuran basis data yang besar dan penilaian subjektif dalam mengartikan image dengan text. Untuk menghindari teknik ini, maka digunakan pendekatan lain dalam image retrieval yaitu content based.

CBIR adalah salah satu metodologi untuk pemanggilan kembali data image berdasarkan content sebuah image. Teknik CBIR yang banyak digunakan adalah teknik warna, teknik tekstur, dan teknik bentuk. Pada sistem CBIR, content visual dari image akan diekstraksi dan diuraikan menggunakan metode pengekstrakan ciri. Untuk mendapatkan kembali image, user menginputkan query image. Kemudian sistem akan mengekstrak image tersebut sehingga menghasilkan fitur ciri image. Fitur ciri image query dan image dalam database akan dicari similaritynya. Image yang memiliki nilai similarity yang paling tinggi akan muncul diurutan teratas. Gambar dibawah ini memperlihatkan bentuk umum sistem CBIR. Pada image tersebut terdapat dua jalur utama yaitu query dan database. Pada kedua lajur tersebut terdapat visual content description yang akan digunakan untuk proses similarity comparison, indexing dan retrieval. (Sumber: http://www.ittelkom.ac.id).

Saat ini banyak kalangan pengembang sistem informasi rumah sakit yang belum mensinergikan dengan kebutuhan teknologi 10 – 20 tahun yang akan datang. Tentu bukan perkara mudah merealisasikan hal yang masih ”diraba-raba” akan seperti apa aplikasinya. Memang pada prinsipnya pengembangan SIM berangkat dari analisa kebutuhan, tapi bukan berarti kalo tidak dibutuhkan tidak dikembangkan bukan? Terkait hal ini, RS sebagai rumah bagi orang sakit (ya pasti…lah, hehehe) tentu tidak banyak pilihan selain keterbatasan dana juga yang paling mendasar adalah keterbatasan SDM di RS itu sendiri. Tetapi mau tidak mau jika kita ingin menjadi negara maju (masa dari dulu jadi developing country terus… CaPeDe ) maka kita harus sudah memulai berfikir ke arah sebuah smart system yang multifungsi. Seiring dengan itu perlu diketahui bahwa berbagai ilmu pengetahuan terkait interdisiplin ilmu saat ini telah berkembang di Indonesia diantaranya:

  • Health Informatics (Informatika – Kesehatan)
  • Biomedical Engineering (Teknik – Kedokteran)
  • Clinical Engineering (Teknik – Kedokteran)
  • Bioinformatics (Biologi – Informatika)
  • Datamining (Komputer – Informatika)
  • Softcomputing, dll

Oleh karena itu, saya berfikir mungkinkah SmartHIS seperti idealnya uraian diatas dapat terwujud ? Semoga….!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: