Takabbur Partai dan Sistem Pembiayaan Kesehatan

10 04 2009

Meriahnya pesta kampanye partai politik yang telah berakhir dan memasuki masa tenang boleh jadi hanya milik mereka (para calon anggota legislatif) yang mengobral janji-janji dengan takabbur kebaikan dan keberhasilan kelompok masing-masing. Namun, tidak satu pun dari partai itu takabbur di bidang kesehatan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa 5 tahun kepemimpinan SBY – JK yang dimulai tahun 2004 tidak ada yang benar-benar terasa spektakuler. Terkait hasil kebijakan di sektor kesehatan. Terutama sistem pembiayaan kesehatan.

Banyak partai politik mengklaim keberhasilan sektor pertanian, sektor ekonomi, dan yang sangat mencolok dan benar-benar dirasakan adalah sektor pendidikan dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pembelanjaan dan Biaya Negara (APBN). Tidak hanya dirasakan oleh siswa tapi juga para guru. Mereka benar-benar merasakan dampak dari kenaikan anggaran pendidikan ini.

Namun, tidak demikian di sektor kesehatan. Meskipun diluncurkan berbagai program JPKM, JAMKESMAS, ASKESKIN, JAMKESDA dan lain sebagainya namun tidak satu pun program tersebut bisa dirasakan semua pihak. Baik pengguna layanan kesehatan maupun pekerja kesehatan (dokter, perawat, bidan, dan tenaga non-medis di rumah sakit).

Sistem Pembiayaan Kesehatan
Reformasi sistem pembiayaan kesehatan masih belum menyentuh rakyat kecil secara nyata. Jika mengacu pada standar kesehatan World Health Organization (WHO) yang menetapkan 15% dari APBN, paling tidak jika APBN 2009 lebih Rp 1,000 triliun maka anggaran kesehatan mestinya sebesar Rp 150 triliun.

Namun, tahun 2009 meskipun telah dinaikkan 3 kali lipat anggaran sektor kesehatan hanya sebesar 2.64% atau sekitar Rp 18,8 triliun. Itu pun 54,1% nya untuk biaya pembelian obat dan alat.

Bayangkan kalau dibandingkan dengan anggaran di sektor infrastruktur. Data ICS (Institute for Civil Society Strengthening?) tahun 2007, di Papua terjadi ketimpangan yang sangat mencolok antara anggaran kesehatan publik dengan anggaran kesehatan aparatur. Rakyat miskin hanya kebagian Rp 137,000 per tahun ini berarti Rp 11,000 per bulan.

Bisa dibayangkan kira-kira obat apa yang bisa dibeli dengan Rp 11,000 dan untuk menyembuhkan penyakit apa. Ketidakadilan sangat terasa kalau kita bandingkan dengan anggaran kesehatan untuk para aparatur yakni gubernur dan wakil gubernur dalam APBD 2008. Masing-masing Rp 150 juta per tahun (atau 12,5 juta per bulan), dan tiap anggota DPRD Papua Rp 48 juta per tahun (atau Rp 4 juta per bulan).

Sungguh tidak rasional. Bisa dikategorikan sebagai pemborosan anggaran daerah karena standar biaya kesehatan pejabat negara adalah paling mahal Rp 20 juta per tahun.

Sistem pembiayaan kesehatan yang diprogramkan pemerintah meskipun mencakup segala aspek reformasi kebijakan kesehatan seyogyanya memberikan fokus penting kepada kebijakan pembiayaan kesehatan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (adequacy), pemerataan (equity), efisiensi (efficiency), dan efektifitas (effectiveness) dari pembiayaan kesehatan itu sendiri. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan yang memadai (health care financing) akan menolong pemerintah untuk dapat memobilisasi sumber-sumber pembiayaan kesehatan, mengalokasikannya secara rasional, serta menggunakannya secara efisien dan efektif.

Kebijakan pembiayaan kesehatan yang mengutamakan pemerataan serta berpihak kepada masyarakat miskin (equitable and pro poor health policy) akan mendorong tercapainya akses yang universal (sumber: http://www.jpkm-online.net).

UU Nomor 40 Tahun 2004
UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) sebenarnya telah mengatur pembiayaan dengan sistem asuransi salah satunya adalah ASKESKIN. Beberapa wujud pelaksanaan undang-undang ini adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Pensiun (JP) belum mampu mencapai hasil yang menggembirakan.

Terkait dengan janji-janji kampanye yang akan menggratiskan biaya kesehatan tampaknya juga akan bernasib sama dengan janji kampanye 5 tahun lalu. Yang paling mudah untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan adalah melihat fenomena “dukun cilik” Ponari di mana masyarakat berbondong-bondong berharap mendapat kesembuhan tanpa harus mengeluarkan biaya yang tinggi.

Di samping itu stigma di masyarakat sudah terlanjur mengakar bahwa berobat ke layanan kesehatan pemerintah baik rumah sakit maupun puskesmas akan menelan biaya yang tidak sedikit (meskipun tidak semuanya benar) semakin menambah permasalahan rumitnya menyusun pola pembiayaan berbasis asuransi.

Penerapan pembiayaan kesehatan dengan sistem asuransi akan menggeser tanggung jawab perorangan menjadi tanggung jawab kelompok. Dan, mengubah sistem pembayaran dari setelah pelayanan diberikan menjadi sebelum pelayanan diberikan serta sesudah sakit menjadi sebelum sakit. Selain menguntungkan bagi masyarakat sebagai pengguna layanan kesehatan juga bisa menjadi sarana sektor swasta untuk berperan dalam upaya kesehatan nasional.

Terpinggirkan
Sistem pembiayaan yang belum maksimal salah satunya adalah belum adanya produk undang-undang yang melindungi setiap warganya untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dengan biaya yang seminimal mungkin. Produk undang-undang masih banyak di bidang pembangunan ekonomi dan infrastruktur fisik.

Kalaupun ada yang spektakuler yaitu anggaran pendidikan 20% APBN pemanfaatannya di lapangan terkesan “asal proyek selesai”. Tanpa adanya kontrol yang sistematis atas penggunaan anggaran itu. Ini juga salah satu ke-“mubazir”-an anggaran.

Sektor kesehatan yang justru menyangkut kualitas hidup masyarakat belum mendapat prioritas para calon anggota legislatif di masa-masa kampanye. Kalau pun disebutkan itu sebenarnya mereka juga belum punya landasan teori dan studi yang layak terlebih dahulu –istilah orang jawa “waton omong” atau asal bicara saja tanpa tahu bagaimana mereka akan mewujudkannya jika terpilih nanti. Berbeda dengan konsep pembangunan pendidikan, ekonomi, dan ketahanan pangan yang mudah bagi mereka untuk “ditebak”. Demikian. Wallaahu alam bishowaab.

tulisan ini juga dimuat di detik.com


Actions

Information

One response

30 11 2009
mr. zul

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Salamualaikum, ya saudaraku.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

30/41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

kerusakan hanya mampu terbaca apabila kita merasa teraniaya disuatu negeri

وأَنَّ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

17/10. dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.

orang yang tidak beriman tentunya tidak akan percaya akan adanya azab yang pedih dan sudah dipastikan apa apa yang diusahakan tidak akan pernah terlintas untuk mengadakan perbaikan karena si ‘pelaku kerusakan itu’ tidak merasakan bahwa dirinya sedang melakukan kerusakan.

bahkan akan mengatakan :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi “. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

maka dari itu Allah hanya memanggil orang-orang yang merasakan kerusakan itu dan di Ajak Oleh Allah untuk melakukan perbaikan, dan apabila ajakan itu ditujukan kepada orang-orang yang mampu atau (bermewah-mewahan di negeri itu.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

17/16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

. وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

43/23. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.

sebenarnya orang-2 yang hidup mewah dinegeri ini pun tidak banyak yang mengatakan itu, tapi apabila suatu saat ada ajakan untuk mengajak kepada perbaikan yang Allah atur mereka akan mempunyai sikap bahkan pembicaraan yang lebih pedas dari pada surat 43/23. mereka sudah asyik ataupun kita semua sudah Asyik dengan sistem kehidupan yang “Allah tidak mengatur didalamnya”/”Allah tidak berkuasa dialamnya” karena kita terlalu banyak zon terhadap Allah dan sesuatu yang dibarengi dengan zon tentunya adalah syaitan (utusan Iblis) tentunya. zon atau prasangka bisa lebih detail lagi.

kita sering kali mengeluarkan statement yang lemah (dhoif/dhuafa) atau mengada-ada/mengarang-karang tanpa dasar garis-garis ketetapan yang allah tuliskan.

أَلا إِنَّ لِلّهِ مَن فِي السَّمَاوَات وَمَن فِي الأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ شُرَكَاء إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

10/66. Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.

prasangka.

١٢٠. يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً

4/120. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

kita semangat berbuat sesuatu aturan/cara perbaikan yang tidak pernah Allah atur dan Allah janjikan akan dimenangkan. (saya pun masih demikian)

maka…

أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلاَ يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصاً

4/121. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.

kita mungkin akan mengira yang (KTP) muslim akan mengalami

وَقَالُواْ لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِندَ اللّهِ عَهْداً فَلَن يُخْلِفَ اللّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

2/80. Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”

padahal …

بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيـئَتُهُ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

81. (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

barang siapa yang asyik dengan kerusakan (dikira perbaikain 2/11) tentulah kita akan selalu semangat dengan hal itu, terselubungi dengan “akhir” yang baik yang mampu kita baca dalam kehidupan ini.

demikian tentulah tidak mudah untuk hidup di Alam yang semuanya mengaku mengadakan perbaikan padahal Allah sudah menyiapkan “cara perbaikan yang sempurna” apabila kita merasakan dengan sungguh kerusakan itu, dan jika “kerusakan” tidak mampu kita rasakan maka, pantaslah “Kitab Allah” menjadi sesuatu hal yang hanya akan dilirik sebelah mata “Tentunya” tak akan kita melirik cara Allah memperbaiki kerusakan karena kita merasa “sudah Benar”, mengapa begitu karena fokus pandangan yang hanya sebelah mata hanya akan terlihat dari sisi realita-nya saja, dan tidak ada yang akan melihat petunjuk Allah karena kita “Enggan”, “Malas”, kalau Allah berkuasa akan diri kita karena kita terbiasa dengan didikan sejak dini “Kemerdekaan/Kebebasan/Tanpa Kekangan/Freedom/Freewill” dan Allah hanya sebagai symbol kalo manusia sedang ada “masalah” saja, maka selama tidak bermasalah dengan kehidupan pribadi masing-masing “kita” tentunya, kita sangat enggan mengkomunikasikan/Synchronized dengan Sosok yang telah mengerti seluk beluk “diri Kita” yang mampu menciptakan manusia dengan proses dari segumpal darah atau dari tanah yang diberi bentuk. sadarkah kita, hmmmm mungkin tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: