Cloud Computing dalam medis, mungkinkah ?

13 12 2010
cloudcomputing syaiful fatah

Cloud Computing

Ada sebuah tren menarik akhir-akhir ini dimana sebuah perusahaan software terbesar di dunia mulai menciptakan aplikasi gratis berbasis anggota. Aplikasi tersebut ternyata tidak dijual dalam bentuk CD package  layaknya MS Office, MS Windows, RedHat, SuSE dan berbagai aplikasi pengolah data lainnya seperti Macromedia Dreamweaver, Photoshop maupun Coreldraw. Tetapi aplikasi tersebut dapat digunakan oleh anggota tanpa menginstallnya di PC desktop masing-masing. Nah bagaimana bisa ?

Ya, itulah yang dinamakan cloud computing. Secara harfiah cloud = awan, computing = penghitungan tapi bukan berarti penghitungan awan. Cloud computing merupakan generasi baru software development dimana aplikasi tertanam di sebuah server dengan sistem operasi tertentu yang memungkinkan user anggota dapat menggunakan software melaui sambungan internet (identik dengan awan/cloud). Lihat saja 2 tahun lalu Google mempelopori dengan docs.google.com dimana kita bisa mengelola file Excel, Word, Drawing dan Powerpoint secara langsung dan menyimpannya dalam server google. Kita bahkan dapat mengolah file dari direktori PC desktop menggunakan GoogleDocument itu. Hebatnya kita hanya membutuhkan koneksi internet dan sebuah browser yang support API yang gratis pula. Kita tidak perlu membawa flashdisk jika memang destinasi kita dilengkapi dengan internet.

Pada pertengahan 1990-an, banyak warnet yang berusaha menekan fixed cost dengan membangun diskless workstation komputer client yang tidak dilengkapi dengan harddisk. Proses booting, pengoperasian aplikasi, hingga penyimpanan data, semuanya dilakukan di server melalui jaringan. Meski tidak 100% identik, konsep serupa dapat kita temukan pada cloud computing.

Cloud computing memudahkan anggota mengelola filenya secara aman dan kapanpun dimanapun tanpa kekhawatiran lupa membawa dokumennya. User hanya harus terdaftar sebagai anggota saja untuk bisa, lebih hemat dan praktis bila dibandingkan kita harus membeli lisensi yang harganya jutaan rupiah.

Akan tetapi bukan berarti cloud computing tanpa meninggalkan masalah, setiap implementasi teknologi pasti mengandung masalah yang terus menerus harus dipecahkan bersama. Dalam cloud computing yang menjadi masalah (terutama di Indonesia) diantaranya :

–          Masih mahalnya harga bandwidth

–          Operator telekomunikasi belum siap (infrastruktur dan SDM) yang belum menjangkau semua daerah dengan koneksi internet cepat.

–          Security dokumen yang masih diragukan karena bisa saja sebuah dokumen penting perusahaan dapat bocor (baca: leak). Ingat akhir tahun 2010 Assange melalui WikiLeaks nya membuat hampir semua negara khawatir dokumennya bocor ke publik

Cloud Computing dalam Medis, mungkinkah ?

Jawabannya telah coba di inisiasi oleh (lagi-lagi) Google dengan GoogleHealth. Mungkin dia (baca: google) ingin menyentuh bisnis software medis. Lalu kaitannya dengan cloud computing? Ya, didalam google health setiap user bisa mencatat rekam kesehatannya secara rutin dan mengaksesnya kembali saat hendak digunakan atau diedit. Dan data rekam medis itu hanya user sendiri yang bisa mengakses kecuali hak itu dipindahkan ke orang lain. Google tampaknya telah sadar betul bahwa ke depan sistem rekam medis akan berkembang ke arah PHR (Personal Health Record). Universitas Pittsburg sudah sejak 4 tahun belakangan mengarahkan penelitiannya dibidang PHR dan aplikasi bagi para penyandang cacat.

Cloud computing dalam medis bukanlah kemustahilan. Apalagi jika kita lihat hampir semua rumah sakit telah menerapkan sistem informasi medis dalam pelayanannya. Itu artinya bahwa sebenarnya mayoritas pusat pelayanan kesehatan (PPK) sadar bahwa teknologi informasi sangat diperlukan untuk melayani masyarakat secara lebih baik. Didukung dengan kebanyakan software SIMRS harganya mahal (meski tidak semua) menjadikan keengganan RS membeli software tsb. Jika cloud computing benar-benar dapat diterapkan di bidang kesehatan tentu RS atau PPK tidak perlu membeli software yang sangat mahal dan menambah beban kerja diluar core businessnya sendiri.

Bisa dibayangkan jika kita berobat ke RS ‘A’ kemudian pada waktu yang lain berobat ke RS ‘B’ tidak perlu memiliki dua kartu periksa sekaligus dan semua data medis kita bisa diakses oleh RS ‘B’ tanpa kita harus mengambil dulu data RM kita di RS ‘A’. Cukup memberikan hak kepada RS ‘B’ untuk mengaksesnya melalui magnetic card (seperti ATM Bersama) atau dengan memberikan nomor PIN saja semua data kita dapat diketahui dan dimanfaatkan. Itulah idealismenya.

Idealisme itu bisa diwujudkan tentu dengan menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada terlebih dahulu:

–          Standarisasi nasional data medis.

Menunggu intervensi pemerintah melalui PUSDASURE (Pusat Data Survey da Epidemiologi) Kemenkes RI dengan produk-produk standarisasi pertukaran data medisnya.

–          Infrastruktur komunikasi data memadai

o   Dukungan server superpower (24 jam sehari, 7 hari seminggu)

o   Kapasitas penyimpanan data yang sangat besar

–          Internet supercepat

–          Sumberdaya manusia Informatika Kesehatan yang mencukupi.

Sepengetahuan saya sampai saat ini belum ada perguruan tinggi yang mempunyai jurusan sendiri khusus di bidang informatika kesehatan. ITS baru sebatas Pusat Studi dan kelompok penelitian. UGM masih menjadi bagian didalam SIMKES, UI masih dibawah FMIPA dan IKM dan di UMY masih dalam bentuk Departemen Infokes di FKIK.

Next time idelisme itu saya yakin pasti terwujud dengan usaha dan kerja keras kita bersama dalam konsep, ide dan tujuan yang sama.


Actions

Information

4 responses

1 06 2011
albertpratama

Di dalam cloud, bagaimana dengan hak kepemilikan data rekam medis pasien? Sampai sejauh mana penyedia jasa cloud bisa dipercaya akan keamanan dan privasi data yang diletakkan di situ?

2 06 2011
Syaiful Fatah

terima kasih atas komennya mas albertpratama. mengenai keamanan dan privasi data inilah yang di beberapa diskusi seminar maupun workshop cloud selalu menjadi pertanyaan yang sering dilontarkan namun jawabannya belum memuaskan. namun ini kembali kepada kita masing-masing jika data tersebut sangat rahasia tentunya proteksi data bisa kita lakukan pre maupun post computing. sampai saat ini belum satupun perusahaan yang bisa memberikan penjelasan detail perihal security data, dan mekanisme backup secara simultan.
Mengenai hak kepemilikan data rekam medis sudah jelas itu 100 % hak pasien, hal ini pun sudah diatur melalui Permenkes. Artinya cloud computing menurut saya tidak bisa digunakan sebagai penyimpan rekam medis massal misalnya sebuah RS atau Klinik yang berbentuk data mentah. Namun data-data olahan, hasil komputasi, dll saya kira cloud computing sdh compatible. Untuk PHR (personal health record) saya fikir cloud computing cukup bisa dipercaya.

3 06 2011
albertpratama

Hmmm…

Tapi kalo banyak PHR ditaruh di cloud, bukannya ujung2nya juga jadi koleksi rekam medis massal (mirip dengan seandainya RS menyimpan data rekam medisnya di cloud)?

3 06 2011
Syaiful Fatah

nah justru ini pertanyaan kita bersama.. (sesuai judul tulisan.. hehe) namun secara hukum itu sah, karena autentifikasinya by user sendiri. sebenarnya tidak jauh beda jika disimpan di server lokal mas, tidak ada yg mutlak dalam security data, justru di cloud punya mekanisme pertahanan yang berlapis. so.. tidak ada salahnya kita coba. ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: